Dekorasi Kaligrafi: Sebuah komunitas seniman berprestasi Nasional, ASEAN, dan Internasional, telah eksis dan berpengalaman lebih dari 100 project event yang tersebar di berbagai kota dan manca negara. Hubungi DISINI

Jumat, 28 Maret 2008

Misi Provetik Seni Islam

Oleh : Muhtar Sadili
Pustakawan Pusat Studi Al-Quran (PSQ)

Pergulatan Seni Islam hampir menemui jalan buntu!. Ini diindikasikan dengan sikap ambivalensi sikap kaum muslim sendiri dalam menangani dunia seni. Ambivalensi itu menyisakan kaburnya definisi Seni Islam itu sendiri.

Sebagian besar kelompok muslim, berkeyakinan bahwa Islam sama sekali tidak bertentangan, apalagi melarang seni. Mereka mengajukan argumen, bahasa al-Quran sarat dengan kosakata keindahan dan hingga kini, seni membaca al-Quran(tilawatil qur’ân) dan seni kaligrafi (khat) masih diakui eksistensinya

Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, umat Islam belum memiliki konsep yang utuh dan mapan tentang Seni Islam. Belum ditemukan dasar filosofis berupa batasan keindahan yang sesuai dengan ajaran Islam. Secara teoritis, sejarah, struktur dan klasifikasi; apakah ada Seni Islam ataukah hanya ada seni Muslim.

Dan yang paling penting, segi apresiasi yang berisi ‘kritik seni’ yang mengkaji perkembangan masyarakat muslim. Seni Islam sepertinya, terkurung dalam perkembangan seni dari masyarakatnya sendiri maupun dari masyarakat yang lebih luas.

Berbeda dengan Barat, terdapat paradigma Posmodern Art yang nota bene baru tumbuh dan berkembang pada dekade 60-han yang meliputi masalah estetika, teori maupun apresiasi yang sistematis. Bahkan telah melahirkan diversifikasi semacam Feminist Art di era 70-han yang mencoba mengembangkan wacana seni perempuan. Setelah itu, memasuki era 80-han dengan Multicultural Art yang memperjuangkan seni kelompok pinggiran dan masyarakat tertindas.
Pergumulan seni di Barat itu, kontras dengan dunia Islam. Sebagai sebuah kebudayaan yang lengkap, dan bukan hanya sekedar sistem teologi, Islam juga memiliki aspek seni yang berkembang seiring dengan perkembangan ummah. Namun, keberadaan ummah ini masih tercerai berai, begitu juga karya-karya pemikir muslim yang lahir di wilayah yang berbeda-beda.

Paradigma Al-Quran

Nah, untuk meneguhkan misi provetik Seni Islam diperlukan paradigma teologis. Sebagai inti ajaran Islam, tauhid tidak bisa ditawar lagi sebagai piranti lunak untuk melihat secara jernih bagaimana Seni Islam itu diidentifikasi. Karena semua aktifitas kehidupan muslim, sebagai menifestasi kewajiban khalifah di bumi yang berkhidmat pada nilai-nilai transendental.
Transendensi Seni Islam ini, semakin terlihat ketika Al-Quran dijadikan pondasi oleh seniman muslim dalam mengekspresikan karya seni. ‘Budaya Qur’ani’ telah menjadi trend dalam setiap kelahiran Seni Islam, baik sastra, arsituktur, drama, maupun karya seni lainnya.
Kebudayaan Islam, dalam kenyataannya adalah ‘budaya Qur’ani’, karena baik definisi, struktur, tujuan, maupun metode untuk mencapai tujuan, selalu ditahbiskan pada rangkaian titah Al-Quran.
Dengan Al-Quran, seorang muslim bukan saja dapat melihat ‘realitas ultima’, tatapi terdapat prinsip-prinsip tentang alam, manusia, makhluk hidup, dan aktifitas sosial lainnya. Tanpa wahyu tesebut, Seni Islam akan sulit diidentifikasi di tengah munculnya beragam karya seni di abad modern ini.

Keberadaan Al-Quran sebagai ‘core value’ ini, pada gilirannya menempatkan Seni Islam tak lebih dari ‘Seni Qur’ani’. Ekspresi estetis dari Al-Quran begitu kental mewarnai kelahiran ribuan karya seni yang selama ini diyakini sebagai Seni Islam.

Isi dan keberadaan Al-Quran, merupakan representasi dari pola-pola infinitif dari Seni Islam. Al-Quran itu sendiri berhasil memengaruhi kreasi selanjutnya dalam seni sastra, seni rupa (baik dekoratif maupun arsitektur), seni suara, dan seni gerak.

Sebagai karya sastra yang agung, Al-Quran memiliki pengaruh estetis dan emosional yang sangat kuat pada kaum muslim yang membaca dan mendengar prosa-prosanya yang puitis. Ini sebagai aspek kemukjizatan yang masih diakui oleh sebagian besar intelektual muslim mutakhir.
Uniknya, ketidakmampuan menyaingi kesempurnaan Al-Quran ini menjadi spirit bagi kaum muslim, untuk melahirkan beragam karya seni. Telah lahir pengadopsian dan pengadaptasian motif serta teknik yang tak terhingga jumlahnya dari luar Islam untuk selanjutnya terintegrasi ke dalam Seni Islam.

Partisipasi Estetis

Tesis ini meruntuhkan anggapan sebagian orientalis, bahwa Islam adalah agama inkonoklastik dan konservatif yang tidak mengakui seni. Demikian juga bagi kekeliruan identifikasi oleh sebagain umat muslim, atas usaha para seniman dalam mengarahkan partisipasi estetis ke arah satu corak dan jenis Seni Islam versus karya seni di luar Seni Islam itu sendiri.
Sejatinya, partisipasi estetis dilihat sebagai upaya tiada henti dalam memaknakan sifat-sifat ketuhanan sebagai misi profetik Seni Islam. Kaum muslim memerlukan pola estetis yang dapat menyediakan objek bagi kontemplasi estetis yang bermuara pada kesadaran, bahwa Tuhan sangat berbeda dengan ciptaan-Nya. Tidak dapat direpresentasikan dan diekspresikan!.
Inilah yang dapat kita baca pada afirmasi Lâ Ilâha Illallâh, bahwa tiada Tuhan selain tuhan (dengan t kecil) dan bahwa sepenuhnya berbeda dengan manusia maupun alam. Partisipasi estetis mengandung dimensi positif tauhid yang menekankan bukan pada apa yang ‘bukan Tuhan’, melainkan pada apa yang merupakan ‘sifat-sifat Tuhan’.

Dengan komitment transendental itu, Seni Islam akan berbeda dengan Seni lainnya yang telah menempatkan ‘bukan Tuhan’ begitu rupa. Ekspresi Seni Islam, berusaha kuat menempatkan yang ‘bukan Tuhan’ secara proporsional dan tidak bersifat ‘figural manipulatif’.

Walhasil, Seni Islam selalu melekatkan atau mendasarkan premis-premisnya pada komitment transendental. Al-Quran, menjadi sumber yang siap dan logis bagi inspirasi kreasi estetis seniman muslim di masa mendatang. Ekspresi dan ajaran Al-Quran, merupakan bahan dan materi terpenting bagi Seni Islam. Dan Seni Islam, tak lebih dari ‘seni Qur’ani’. Ilallâh murji’ul umûr



 
© copyright 2010 noqtahcalligraphy.com All Rights Reserved