Dekorasi Kaligrafi: Sebuah komunitas kaligrafer berprestasi Nasional, ASEAN, dan Internasional, telah eksis dan berpengalaman lebih dari 100 project event yang tersebar di berbagai kota dan manca negara. Hubungi DISINI

Rabu, 16 April 2008

Kaligrafi Modern Perlu Dukungan Masyarakat Penyangga

Pengembangan seni kaligrafi modern Islam di Indonesia memerlukan dukungan dari masyarakat penyangga, yang tidak lain adalah kalangan elite masyarakat yang mempunyai kesadaran lebih tinggi tentang budaya Islam.

Demikian salah satu butir paparan yang disampaikan seniman Agus Burhan, dalam diskusi tentang seni lukis kaligrafi, Selasa (17/10), di V-Art Gallery and Cafe.

Hadir pula memberikan paparan dalam diskusi ini, Syafri Sairin dari Universitas Gadjah Mada, serta Bachrum Bunyamin dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Diskusi ini merupakan bagian dari pembukaan pameran seni lukis kaligrafi bertajuk "Mutiara Hikmah".

Agus mengatakan bangsa Indonesia yang mempunyai banyak elite masyarakat Islam seharusnya bisa menjadi penyangga untuk turut mengembangkan seni kaligrafi. Elite Islam ini bisa menjadi target pengoleksi karya-karya kaligrafi, sekaligus memberikan kritik dan saran untuk pengembangan kaligrafi modern.

"Apabila dikatakan bahwa telah tumbuh kelompok elite masyarakat Islam Indonesia yang mempunyai kesadaran budaya Islam, mengapa potensi masyarakat itu tidak bisa menjadi penyangga lukisan kaligrafi modern Islam Indonesia secara signifikan?" katanya. Lembaga sosiokultural

Agus menambahkan, keberadaan masyarakat penyangga juga perlu didukung dengan lembaga sosiokultural dan kesenian, yang berfungsi untuk menyebarluaskan perkembangan seni kaligrafi di Indonesia. Selain itu, wacana tentang seni kaligrafi modern di kalangan masyarakat juga perlu diperluas dengan memakai media massa, kritikus dan kurator seni rupa, para ahli seni, serta akademisi.

Dari sisi seni, para seniman kaligrafi juga perlu mencari bentuk seni kaligrafi yang bisa diterima dalam masyarakat saat ini. Berbagai kaidah kaligrafi juga perlu ditafsirkan lagi agar sesuai dengan konteks kekinian. Hingga saat ini, Agus melihat kaligrafi masih berkutat pada bentuk-bentuk abstrak. Padahal, perkembangan seni rupa di luar kaligrafi sudah sedemikian pesat.

Syafri Sairin berpendapat kaligrafi sebagai sebuah bentuk seni yang memakai isyarat berupa simbol, untuk menyampaikan makna. Simbol ini tidak bisa dilepaskan dari agama Islam yang menjadi pijakan awal tumbuhnya seni kaligrafi.

Makna yang terkandung dari simbol tersebut merupakan bagian dari tafsir seniman. Sebagian dari simbol dalam kaligrafi hanya bisa dimaknai oleh suatu komunitas tertentu, atau bahkan oleh seniman itu saja.

"Saya kadang-kadang bertanya, mengapa seniman mengambil ayat tertentu dalam kaligrafinya. Begitu pula dengan pilihan-pilihan bentuk, tata letak, serta warna yang ditampilkan dalam sebuah seni kaligrafi," tutur Syafri.

Dari sisi agama, Bachrum menilai kaligrafi sebagai media dakwah, baik karena materi maupun pesan yang hendak disampaikan seniman dalam kaligrafi tersebut. Walau begitu, Bachrum tidak mempermasalahkan bila kaligrafi mencari bentuk baru yang lepas dari bentuk konvensional selama ini.

Proses akulturasi

Agus Burhan memaparkan, kaligrafi di Indonesia berkembang pesat tahun 1980-an. Pameran kaligrafi besar, seperti Pameran MTQ, Pameran Wajah Islami, dan Pameran Istiqlal, merupakan penanda kejayaan seni kaligrafi Islam ketika itu. Para seniman memakai gaya mereka masing- masing, seperti simbolis dan abstrak.

Bila dirunut kembali ke belakang, sejarah kaligrafi Indonesia tidak lepas dari proses akulturasi dengan sejumlah budaya, seperti budaya lokal, Persia, dan China. Karena itu, kaligrafi Indonesia tidak bisa dikatakan sama dengan kaligrafi dari daerah lain, karena sudah mempunyai identitas sendiri. (ART)

http://64.203.71.11/kompas-cetak/0610/18/jogja/29984.htm

Cetak Halaman Ini

0 komentar: